Welcome

Search

Minggu, 12 Februari 2012

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh- Terjun ke Dunia Politik? No Way, It’s Very Complicat

Kabarnya Bapak suka banget dengerin lagu-lagu band D’Masiv ya? Iya. Ha ha ha. Saya suka sekali dengan lagu-lagu mereka, apalagi yang berjudul Syukuri Apa Yang Ada. Saya suka lagu yang bisa menyentuh.Saya bukan seniman,tapi saya bisa merasakan energi sebuah lagu karena banyak sekali lagu yang enak, tapi tidak masuk di hati. Ada lagu yang bisa masuk ke perasaan, menyentuh, hingga bisa mengingatkan kita dan memotivasi. Prinsipnya, memang tidak ada hidup yang tanpa persoalan. Selain D’Masiv, saya juga suka lagu dari The Mercy yang judulnya Ayah dan lagu Ku Yakin Sampai di Sana milik Rio Febrian. 




Kapan Bapak bisa menikmati mendengarkan lagu-lagu bagus? 


Kapan saja. Biasanya kalau sedang membaca. Saya suka membaca buku-buku tasawuf dan pengembangan SDM (sumber daya manusia) sebagai hobi. Saya orang yang sangat menikmati hidup. Makanya, saya juga senang makan. Kalau pulang kampung ke Surabaya, selain silaturahmi dengan Emak saya, saya juga menyempatkan diri cari sarapan, makan siang,dan makan malam di luar. Dari soto ayam hingga soto jeroan dan sate kerang saya makan.Ayam goreng, kambing guling, rujak, dan duren, saya sangat menikmatinya. Tidak ada makanan yang saya pantang.Namun, intinya adalah jangan makan sesuatu yang berlebihan.





Bagaimana kalau sudah pensiun sebagai menteri.Mau terjun ke dunia politik? 


Terjun ke dunia politik? No way. It’s very complicated.Politik bukan dunia saya. Saya begini saja sudah cukup. Banyak parpol yang ingin menarik saya untuk bergabung sejak dulu. Tapi,saya ibarat ikan tawar.Kalau ditaruh di air laut,akan mati. Politik dalam konteks public policydi mana saya dapat memberikan pandangan terhadap kebijakan umum, itu boleh. Bukan politik dalam artian ikut partai,membawa bendera,dan kampanye.


Sepertinya Bapak antipati sekali dengan politik? 


Karena politik itu harus tega. Saya bahkan tidak tega memecat orang. Pak Presiden bahkan pernah berbisik ke saya, ‘Pak Nuh tidak usah masuk ke politik’. Jadi sudahlah, masing- masing punya kelebihan. Namun, saya tidak bisa masuk ke wilayah itu.


Jadi apa dong rencana Bapak bila sudah pensiun sebagai menteri? 


Saya akan kembali mengajar sebagai dosen. Jiwa saya memang mengajar dan mungkin mengembangkan sekolah binaan saya,Sekolah Al Ishlah. Saya juga mengurusi rumah sakit Islam di Surabaya.


Orang tua yang mengarahkan supaya Bapak mengajar saja? 


Oh tidak.Orang tua saya sederhana saja dan tidak menekankan kepada anak-anaknya untuk bercita-cita seperti apa. Ayah saya juga bukan tipe penceramah. Mereka mengajarkan saya untuk menjadi orang baik dan bermanfaat bagi masyarakat. Mengenai pangkat, ada Tuhan yang mengatur.Filosofi saya,Allah akan memberikan apa saja kekuasaan kepada orang yang dikehendaki dan bisa mencabut kekuasaan yang diberikan.Allah bisa memuliakan orang yang dikehendaki atau menjatuhkannya.Saya tidak mengira akan menjadi seperti ini wong sekolahnya di desa.


Apakah pengalaman masa kecil dan keluarga Bapak yang menanamkan filosofi itu? 


Iya.Ibu dan bapak saya adalah seorang petani.Mereka jualan apa saja mulai dari kerupuk hingga es supaya kesepuluh anaknya bisa bersekolah. Kita boleh miskin, namun jangan sampai tidak sekolah. Saya ingat betul itu. neneng zubaidah 

POST

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...